Begitu Banyak Kesedihan dan kesakitan yang harus ditanggung oleh seorang Wanita Semulia Puteri Rasulullah Saaw, marlah Belajar dari Kehidupan Sayyidah Fathimah az-Zahra Sejak Kecil Hingga Akhir Hayatnya
Ada sebuah hadis yang diriwayatkan dari Syiah bahwa Rasulullah kepada Sayyidah Fathimah az-Zahra as bersabda, “Wahai Fathimah! Aku tidak mampu membuatmu tidak butuh akan sesuatu di hadapan Allah.” Artinya, engkau harus berpikir tentang dirimu sendiri. Itulah mengapa Sayyidah Fathmah az-Zahra sejak kecil hingga akhir hayatnya senantiasa memikirkan dirinya. Perhatikan bagaimana beliau menjalani kehidupannya! Sebelum menikah beliau adalah seorang anak perempuan kecil yang membantu ayahnya yang punya tugas agung. Menyaksikan itu Rasulullah saw menyebutnya dengan Ummu Abiha (ibu ayahnya).
Di masa itu, ketika Rasulullah saw tengah berusaha meninggikan bendera Islam agar kekal selama-lamanya, sudah pada tempatnya bila kepada Sayyidah Fathimah az-Zahra disebut Ummu Abiha. Rasulullah saw memberikan panggilan seperti itu kepada beliau disebabkan pengabdian, kerja keras dan perjuangannya. Hal itu dilakukannya dengan baik selama di Mekah di Syi’b Abi Thalib atau saat ibunya wafat meninggalkan ayahnya seorang diri. Sayyidah Fathimah az-Zahra senantiasa berada di sisi ayahnya. Kesedihan mendalam baru saja menghantui Rasulullah saw setelah ditinggal paman dan isterinya. Tentu saja Rasulullah merasakan kesendirian. Pada masa itulah Sayyidah Fathimah az-Zahra bangkit memenuhi kekosongan yang ada. Dengan tangan-tangan mungilnya beliau menepis debu ujian dari wajah ayahnya. Ummu Abiha mampu mengademkan hati Rasulullah saw. Sebutan ini dimulai sejak masa itu.
Bayangkan kepribadian yang luas dan penuh perjuangan ini! Setelah itu tiba periode Islam dan masa pernikahannya dengan Ali bin Abi Thalib as. Ya, itulah Ali yang menjadi contoh nyata sempurna seorang basiji yang penuh pengorbanan terhadap revolusi. Basiji adalah ini. Artinya, seluruh kehidupannya diwakafkan hanya untuk Islam. Diwakafkan sesuai yang diinginkan Rasulullah saw dan membuat Allah rela kepadanya. Imam Ali as tidak pernah berbicara dan meninggalkan sesuatu untuk pribadinya. Selama 10 tahun hidup bersama Rasulullah saw, Imam Ali as hanya bekerja dan berbuat untuk kemajuan Islam. Bila kalian menyaksikan bahwa Fathimah az-Zahra as, Imam Ali as dan anak-anaknya memilih lapar demi orang miskin disebabkan prinsip mulia mereka. Karena bila seorang Imam Ali as hanya memikirkan pekerjaan, ia akan mampu mendapatkan profesi yang terbaik.
Itulah Imam Ali as yang di masa tuanya bekerja menggali sumur. Beliau menggali sumur seukuran leher unta dan mengambil air dari sana. Baru saja selesai menggali sumur dan tangannya belum dibersihkan dan dicuci dari tanah dan debu, beliau lalu duduk sibuk menuliskan surat wasiat bahwa sumur itu diperuntukkan umat Islam. Beliau menulis surat wakaf! Imam Ali as banyak melakukan hal ini. Betapa banyak kebun kurma yang menghijau berkat kerjanya. Lalu mengapa Imam Ali as harus menahan lapar di usia muda? Dalam sebuah riwayat disebutkan, Fathimah az-Zahra as menghadap Rasulullah saw. Beliau tampak sangat lapar. Rasul sendiri menyaksikan betapa wajahnya telah berwarna kuning. Hati Rasulullah saw tersayat-sayat menyaksikan kenyataan ini. Beliau lalu menengadahkan tangannya ke atas berdoa untuk putrinya.
Seluruh kerja keras Imam Ali as diperuntukkan di jalan Allah dan demi kemajuan Islam. Imam Ali as tidak pernah bekerja untuk dirinya. Ini contoh nyata dan sempurna seorang basiji.
… Saat itu Fathimah az-Zahra ternyata lebih memilih seorang pemuda yang mewakafkan dirinya di jalan Allah yang senantiasa berada di medan perang. Ini tidak sederhana. Anak perempuan seorang pemimpin Islam waktu itu dan segala lamaran yang datang dengan kekayaan dan pribadi, ternyata Allah memilihkan Ali untuk Fathimah. Sayyidah Fathimah az-Zahra as juga rela dengan pilihan ini dan merasa bahagia. Beliau kemudian hidup dengan Imam Ali as dan rela dengan kehidupannya. Ucapan Sayyidah Fathimah az-Zahra di hari-hari terakhir hidupnya kepada Imam Ali as menjadi saksi semua ini.
Sayyidah Fathimah az-Zahra as bersabar. Beliau harus membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Setelah itu beliau membela mati-matian hak wilayah. Beliau menanggung segala kesulitan dan siksaan di jalan Allah. Semua itu dilaluinya dan akhirnya mereguk cawan syahadah. Inilah Sayyidah Fathimah az-Zahra as.(Pidato di Hari Wiladah Sayyidah az-Zahra as pada 23 November 1994)[IRIB/SL]
Sumber Mutlak dari : http://indonesian.irib.ir/index.php/iran/rahbar/21777-sayyidah-fathimah-az-zahra-as-di-mata-rahbar.html
Syukron Info Terbaiknya
Related posts:
- Rahbar : Dimensi Kehidupan Sayyidah Fathimah az-Zahra as (Part 3) [caption id="" align="alignleft" width="384" caption="sayyidah Az zahra"][/caption] ...
- Keagungan Sayyidah Fathimah az-Zahra as menurut Rahbar (part 1) Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar Ayatullah al-Udzma...
- Rahbar : Belajar dari Sirah Sayyidah Fathimah az-Zahra as (Part 2) [caption id="" align="alignleft" width="280" caption="Rahbar"][/caption]Bagitu banyak pelajaran yang HARUS...
- Rahbar Sosok Kesederhanaan Seorang Ulama [caption id="" align="alignleft" width="350" caption="Rahbar"][/caption] Fars-Dalam buku “Yek Sabad...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.



