Email anda Aman

Ingin Berita Terbaru

E-mail:

Follow me , Yuuk…!!

Tanya Langsung

BISMA Center

Archives

Kategori

Cara Berlangganan TV berbayar =========================================================================================
  • 21May
    Religi |

    Sayyidah fatimah az zahra

    Sayyidah fatimah az zahra

    Begitu Banyak Kesedihan dan kesakitan yang  harus ditanggung oleh seorang Wanita Semulia Puteri Rasulullah Saaw, marlah Belajar dari Kehidupan Sayyidah Fathimah az-Zahra Sejak Kecil Hingga Akhir Hayatnya

     

     

     

    Ada sebuah hadis yang diriwayatkan dari Syiah bahwa Rasulullah kepada Sayyidah Fathimah ‎az-Zahra as bersabda, “Wahai Fathimah! Aku tidak mampu membuatmu tidak butuh akan ‎sesuatu di hadapan Allah.” Artinya, engkau harus berpikir tentang dirimu sendiri. Itulah ‎mengapa Sayyidah Fathmah az-Zahra sejak kecil hingga akhir hayatnya senantiasa ‎memikirkan dirinya. Perhatikan bagaimana beliau menjalani kehidupannya! Sebelum ‎menikah beliau adalah seorang anak perempuan kecil yang membantu ayahnya yang punya ‎tugas agung. Menyaksikan itu Rasulullah saw menyebutnya dengan Ummu Abiha (ibu ‎ayahnya).‎

    Di masa itu, ketika Rasulullah saw tengah berusaha meninggikan bendera Islam agar kekal ‎selama-lamanya, sudah pada tempatnya bila kepada Sayyidah Fathimah az-Zahra disebut ‎Ummu Abiha. Rasulullah saw memberikan panggilan seperti itu kepada beliau disebabkan ‎pengabdian, kerja keras dan perjuangannya. Hal itu dilakukannya dengan baik selama di ‎Mekah di Syi’b Abi Thalib atau saat ibunya wafat meninggalkan ayahnya seorang diri. ‎Sayyidah Fathimah az-Zahra senantiasa berada di sisi ayahnya. Kesedihan mendalam baru ‎saja menghantui Rasulullah saw setelah ditinggal paman dan isterinya. Tentu saja Rasulullah ‎merasakan kesendirian. Pada masa itulah Sayyidah Fathimah az-Zahra bangkit memenuhi ‎kekosongan yang ada. Dengan tangan-tangan mungilnya beliau menepis debu ujian dari ‎wajah ayahnya. Ummu Abiha mampu mengademkan hati Rasulullah saw. Sebutan ini ‎dimulai sejak masa itu.‎

    Bayangkan kepribadian yang luas dan penuh perjuangan ini! Setelah itu tiba periode Islam ‎dan masa pernikahannya dengan Ali bin Abi Thalib as. Ya, itulah Ali yang menjadi contoh ‎nyata sempurna seorang basiji yang penuh pengorbanan terhadap revolusi. Basiji adalah ini. ‎Artinya, seluruh kehidupannya diwakafkan hanya untuk Islam. Diwakafkan sesuai yang ‎diinginkan Rasulullah saw dan membuat Allah rela kepadanya. Imam Ali as tidak pernah ‎berbicara dan meninggalkan sesuatu untuk pribadinya. Selama 10 tahun hidup bersama ‎Rasulullah saw, Imam Ali as hanya bekerja dan berbuat untuk kemajuan Islam. Bila kalian ‎menyaksikan bahwa Fathimah az-Zahra as, Imam Ali as dan anak-anaknya memilih lapar ‎demi orang miskin disebabkan prinsip mulia mereka. Karena bila seorang Imam Ali as hanya ‎memikirkan pekerjaan, ia akan mampu mendapatkan profesi yang terbaik.‎

    Itulah Imam Ali as yang di masa tuanya bekerja menggali sumur. Beliau menggali sumur ‎seukuran leher unta dan mengambil air dari sana. Baru saja selesai menggali sumur dan ‎tangannya belum dibersihkan dan dicuci dari tanah dan debu, beliau lalu duduk sibuk ‎menuliskan surat wasiat bahwa sumur itu diperuntukkan umat Islam. Beliau menulis surat ‎wakaf! Imam Ali as banyak melakukan hal ini. Betapa banyak kebun kurma yang menghijau ‎berkat kerjanya. Lalu mengapa Imam Ali as harus menahan lapar di usia muda? Dalam ‎sebuah riwayat disebutkan, Fathimah az-Zahra as menghadap Rasulullah saw. Beliau tampak ‎sangat lapar. Rasul sendiri menyaksikan betapa wajahnya telah berwarna kuning. Hati ‎Rasulullah saw tersayat-sayat menyaksikan kenyataan ini. Beliau lalu menengadahkan ‎tangannya ke atas berdoa untuk putrinya.‎

    Seluruh kerja keras Imam Ali as diperuntukkan di jalan Allah dan demi kemajuan Islam. ‎Imam Ali as tidak pernah bekerja untuk dirinya. Ini contoh nyata dan sempurna seorang ‎basiji.‎

     

    Rahbar Iran

    Rahbar Iran

    ‎… Saat itu Fathimah az-Zahra ternyata lebih memilih seorang pemuda yang mewakafkan ‎dirinya di jalan Allah yang senantiasa berada di medan perang. Ini tidak sederhana. Anak ‎perempuan seorang pemimpin Islam waktu itu dan segala lamaran yang datang dengan ‎kekayaan dan pribadi, ternyata Allah memilihkan Ali untuk Fathimah. Sayyidah Fathimah az-‎Zahra as juga rela dengan pilihan ini dan merasa bahagia. Beliau kemudian hidup dengan ‎Imam Ali as dan rela dengan kehidupannya. Ucapan Sayyidah Fathimah az-Zahra di hari-hari ‎terakhir hidupnya kepada Imam Ali as menjadi saksi semua ini.‎

     

    Sayyidah Fathimah az-Zahra as bersabar. Beliau harus membesarkan dan mendidik anak-‎anaknya. Setelah itu beliau membela mati-matian hak wilayah. Beliau menanggung segala ‎kesulitan dan siksaan di jalan Allah. Semua itu dilaluinya dan akhirnya mereguk cawan ‎syahadah. Inilah Sayyidah Fathimah az-Zahra as.(Pidato di Hari Wiladah Sayyidah az-Zahra ‎as pada 23 November 1994)[IRIB/SL]‎

    Sumber Mutlak dari : http://indonesian.irib.ir/index.php/iran/rahbar/21777-sayyidah-fathimah-az-zahra-as-di-mata-rahbar.html

    Syukron Info Terbaiknya

    Related posts:

    1. Keagungan Sayyidah Fathimah az-Zahra as menurut Rahbar (part 1) Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar Ayatullah al-Udzma Sayyid...
    2. Rahbar : Dimensi Kehidupan Sayyidah Fathimah az-Zahra as (Part 3)     Shiddiqah Kubra Nilai Sayyidah Fathimah az-Zahra as kembali...
    3. Rahbar : Belajar dari Sirah Sayyidah Fathimah az-Zahra as (Part 2) Bagitu banyak pelajaran yang HARUS diambil oleh kaum Wanita dari...
    4. Jokes Akhir tahun (part 1) SEPULUH Seorang pria merasa tidak enak badan. Ia mengunjungi seorang...
    5. Jokes Akhir Tahun (part 2) SWEET SEVENTEEN Ada seorang anak bertanya pada ibunya. “Bu, pas...

    Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

    Posted by Faizal Kamal @ 1:50 am

    Tags: , ,

  • ==================================================

One Response

WP_Cloudy

Leave a Comment

Please note: Comment moderation is enabled and may delay your comment. There is no need to resubmit your comment.