
sayyidah Az zahra
Shiddiqah Kubra
Nilai Sayyidah Fathimah az-Zahra as kembali pada ibadah dan penghambaannya kepada Allah. Bila tidak ada penghambaan dalam diri Sayyidah Fathimah as, beliau tidak akan disebut Shiddiqah Kubra (kejujuran terbesar). Apa artinya shiddiq? Shiddiq adalah seseorang yang jujur menunjukkan apa yang dipikir dan diucapkan dalam perbuatannya. Selama kejujuran ini semakin besar, maka sudah pasti nilai seorang manusia juga bertambah. Ia menjadi Shiddiq seperti yang disebutkan oleh al-Quran dalam surat an-Nisa’ ayat 69 yang artinya “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” Dalam ayat ini jelas mendudukkan shiddiqin setelah nabiyyin. Tapi perlu diketahui Sayyidah Fathimah az-Zahra lebih di atas itu. Karena beliau adalah Shiddiqah Kubra yang berarti wanita terbaik dari kalangan shiddiqin.. Sifat Shiddiq ini diberikan karena penghambaan. Bila hal itu tidak dilakukan, niscaya beliau tidak akan diberi sebutan Shiddiqah Kubra. Artinya, inti dari semua ini adalah penghambaan kepada Allah.(Pidato di Hari Kelahiran Sayyidah Fathimah az-Zahra as pada 26 Desember 1991)
Dimensi Kehidupan Sayyidah Fathimah az-Zahra as
Dalam kehidupan biasa Sayyidah Fathimah az-Zahra as ada satu poin penting yang patut diperhatikan. Sayyidah Fathimah az-Zahra as mampu menggabungkan antara seorang wanita muslim dalam perilakunya dengan suami dan anak-anaknya dan melaksanakan kewajibannya di rumah dan dari sisi lain melaksanakan kewajibannya sebagai seorang mujahid yang tidak pernah lelah menghadapi pelbagai peristiwa politik pasca meninggalnya Rasulullah saw. Beliau mendatangi masjid dan berpidato lantang membela sikapnya dan berbicara sebagai seorang mujahid tulen yang tidak pernah merasa lelah serta menanggung segala kesulitan. Sementara itu, beliau adalah seorang hamba Allah yang melaksanakan shalatnya di malam hari. Beliau bangkit melaksanakan shalat hanya karena Allah semata. Tunduk dan khusyu di hadapan-Nya. Di bilik mihrabnya, wanita muda ini bak para wali senior Allah melangsungkan munajatnya dengan Sang Kekasih.
Tiga dimensi yang mampu dikumpulkan dalam dirinya menjadikan titik cemerlang dalam kehidupan Sayyidah Fathimah az-Zahra as. Beliau dengan indah menggabungkan tiga dimensi ini. Sebagian orang beranggapan bahwa manusia yang sibuk dengan ibadah dan disebut abid tidak akan mampu menjadi seorang politikus. Atau sebagian lain beranggapan seorang politikus, laki-laki maupun perempuan, dan aktif di medan jihad, bila seorang wanita, pasti ia tidak akan mampu melaksanakan kewajibannya sebagai ibu dan istri yang baik. Bila seorang laki-laki, ia tidak akan mampu menjadi kepala rumah tangga yang memimpin keluarganya dengan baik. Mereka membayangkan keduanya bertentangan. Padahal dalam pandangan Islam ketiganya ini tidak saling bertentangan, bahkan saling membantu mengantarkan manusia menjadi sempurna.
Kalian harus mempertahankan partisipasi kalian mengikuti demonstrasi, berpartisipasi dalam pembangunan, ikut ke medan tempur dan ikut serta dalam pemilu. Partisipasi kalian sangat berpengaruh dalam menentukan masa depan negara dan Revolusi. Pada saat yang sama kalian memperbaiki hubungan spiritual dengan Allah lewat ibadah dan zikir. Pertanyaannya, bagaimana hal ini dengan mudah dapat dilakukan? Kita punya teladan bernama Sayyidah Fathimah az-Zahra as. (Pidato di Acara Peringatan Syahadah Sayyidah Fathimah az-Zahra as pada 13 Desember 1989)
Sumber 100% kopas dari : http://indonesian.irib.ir/index.php/iran/rahbar/21777-sayyidah-fathimah-az-zahra-as-di-mata-rahbar.html
Terimakasih Info Terbaiknya
Related posts:
- Rahbar : Belajar dari Sirah Sayyidah Fathimah az-Zahra as (Part 2) Bagitu banyak pelajaran yang HARUS diambil oleh kaum Wanita dari...
- Keagungan Sayyidah Fathimah az-Zahra as menurut Rahbar (part 1) Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar Ayatullah al-Udzma Sayyid...
- Rahbar Sosok Kesederhanaan Seorang Ulama Fars-Dalam buku “Yek Sabad Gol-e Mohammadi” ada sebuah kenangan...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.


