Rahbar
Coba kalian perhatikan! Sayyidah Fathimah az-Zahra meraih segala keutamaan ini di usianya yang keberapa? Di usia yang ke berapa segala kecemerlangan ini ditampakkannya? Di usia yang masih muda; 18, 20 atau ada yang mengatakan 25 tahun. Semua keutamaan ini tidak diraih begitu saja. “Imtahanaki Allah alladzi Khalaqaka qabla an Yakhluqaki Fawajadaki lamma Imtahanaki Shabira” (Allah Sang Penciptamu telah mengujimu sebelum menciptamu dan menemukanmu begitu sabar ketika diuji). Allah swt telah menguji hamba-Nya yang terpilih ini. Apa yang Allah lakukan telah diperhitungkan dengan matang. Bila Dia memaafkan, maka hal itu dilakukan dengan perhitungan matang. Allah mengetahui betapa hamba pilihan-Nya ini fana di jalan ilahi saat memaafkan, mengorbankan dan mengenal. Oleh karenanya Allah menjadikannya sebagai inti keberkahan manusia.
Kita juga harus melewati jalan ini. Kita juga harus jadi orang pemaaf, berkorban dan menaati Allah. Bukankah dalam riwayat disebutkan betapa Sayyidah Fathimah az-Zahra beribadah sehingga kakinya bengkak (hatta Tawarrama Qadamaaha). Begitu lamanya ia berdiri di mihrabnya beribadah kepada Allah. Kita juga harus berdiri di mihrab kita untuk beribadah! Kita juga harus berzikir kepada Allah. Kita juga harus terus memperbanyak cinta ilahi dalam hati kita. Bukankah kita mengetahui betapa beliau dengan kondisi lemah pergi ke masjid agar dapat meraih kembali hak yang dirampas? Kita juga harus berusaha keras dalam segala kondisi guna mengembalikan hak kepada yang berhak. Kita harus seperti beliau tidak takut kepada siapapun. Bukankah disebutkan dalam riwayat bahwa beliau seorang diri berdiri di hadapan masyarakat di masanya? Kita juga harus seperti yang disabdakan oleh suaminya, ”La Tastauhisyuu fi Thariq al-Huda li Qillati Ahlihi” (Jangan pernah takut di jalan Allah sekalipun dengan jumlah sedikit!) Kita jangan pernah takut sekalipun jumlah kita sedikit menghadapi dunia kezaliman dan hegemoni. Teruslah berusaha! Bukankah diriwayatkan bahwa perbuatan yang dilakukan oleh Sayyidah Fathimah az-Zahra as membuat Allah menurunkan surat ad-Dahr untuknya, suami dan anak-anaknya? Pengorbanan yang dilakukan untuk orang-orang miskin dan membantu orang-orang yang membutuhkan dengan harga dirinya dan keluarganya bakal merasakan lapar yang luar biasa! “Yu’tsiruuna ‘ala Anfusihim wa lau Kana bihim Khashaashah (al-Hasyr ayat 9). Kita juga harus melakukan perbuatan seperti ini.
Tidak bisa dibiarkan kita berbicara lantang tentang cinta Fathimah az-Zahra as. Perhatikan bagaimana beliau dikarenakan orang-orang yang lapar, makanan yang seharusnya untuk diri, suami dan anak-anak tercintanya diberikan kepada orang-orang yang lapar. Beliau memberikan makanan itu kepada orang miskin. Bukan satu hari. Bukan dua hari, tapi tiga hari. Kita yang mengaku sebagai pecinta pribadi yang semacam ini, tapi ternyata bukan hanya tidak pernah memisahkan makanan dari kerongkongan kita untuk diberikan kepada orang-orang miskin, bila perlu kita enyahkan juga makanan yang hendak memasuki kerongkongan orang-orang miskin!
Riwayat-riwayat yang disebutkan dalam buku Ushul al-Kafi dan sebagian buku hadis lain tentang tanda-tanda orang Syiah kembali pada masalah ini. Artinya, Syiah harus berbuat seperti ini! Kita harus mendemostrasikan kehidupan mereka dalam kehidupan kita, sekalipun dalam bentuknya yang lemah. Tentu saja kita ini siapa dan mereka siapa! Jelas, kita tidak akan pernah sampai ke tingkat mereka, bahkan sebatas lingkaran tangan mereka juga tidak akan sampai. Namun kita harus berbuat seperti yang mereka lakukan. Tentu saja tidak boleh terjadi kita hidup bertentangan dengan apa yang dicontohkan oleh Ahlul Bait tapi pada saat yang sama kita mengaku sebagai bagian dari orang-orang yang dibebaskan oleh Ahlul Bait. Apakah hal yang demikian mungkin terjadi? Coba asumsikan ada seorang yang hidup di masa Imam Khomeini ra yang senantiasa mengikuti musuh bangsa Iran yang selalu dibicarakan oleh Imam Khomeini ra. Apakah orang itu mampu mengatakan bahwa dirinya taat kepada Imam? Bila ada ucapan seperti ini keluar dari orang yang seperti itu, apakah kalian tidak menertawakannya? Kondisi yang ada ini sama juga dengan masalah Ahlul Bait.

Sayyida Fatimah
Kita harus buktikan kelayakan kita!
Apakah kita tidak mengatakan bahwa bila seseorang mendengar apa saja perabot rumah tangga Sayyidah Fathimah az-Zahra as, pasti air matanya bercucuran? Apakah kita tidak mengatakan bahwa wanita dengan derajat tinggi seperti beliau tidak memperhatikan dunia dan hiasannya? Lalu mengapa setiap harinya kita malah menumpuk segala bentuk perabot, perhiasan dan hal-hal yang tidak berarti? Kita tinggikan mahar anak-anak perempuan.
Di awal-awal, ketika ada keluarga yang memberikan mahar mahal, kita biasanya menertawakannya. Kita katakan kepada mereka apakah kalian benar-benar akan memberikan logam emas sebanyak itu. Bila memang benar, lebih baik bila kalian tidak langsung mengatakan 72 logam emas! Namun sekarang bagaimana! Kita menyaksikan betapa penentuan mahar yang mahal telah menjadi sebuah kenyataan. Apa sebenarnya yang telah terjadi! Anda sebagai ayah dari anak perempuan, apakah anda dapat mengklaim pengikut ayah Fathimah as? Hal ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus memikirkan kondisi kita. (Pidato di Hari Kelahiran Sayyidah Fathimah az-Zahra as pada 26 Desember 1991)
Related posts:
- Keagungan Sayyidah Fathimah az-Zahra as menurut Rahbar (part 1) Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran atau Rahbar Ayatullah al-Udzma Sayyid...
- Rahbar Sosok Kesederhanaan Seorang Ulama Fars-Dalam buku “Yek Sabad Gol-e Mohammadi” ada sebuah kenangan...
- [SHARE] Motivasi dari Mario Teguh part.2 Babak Kedua Motivasi dari Mario Teguh semoga bisa memberi pencerahan...
- Pejabat yang bersih dari KORUPSI (part 1) Hai all, edisi posting hari ini membicarakan tentang pejabat di...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.


